Senin, 22 Juli 2013

Bagaimana Kita Belajar? Oleh Slamet Priyadi

Bagaimana Kita Belajar? Oleh Slamet Priyadi



Image "Belajar Perlu Keseriusan" (Foto: priyadi1957)
Belajar perlu keseriusan
Slamet Priyadi – Minggu, 21 Juli 2013 – 07:01 WIB – Belajar berarti merubah atau memperbaiki tingkah laku melalui latihan, pengalaman dan kontak dengan lingkungan. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tak mahir menjadi mahir, dari tak pandai menjadi pandai, dan lain-lain. Agar semua itu bisa kita capai dan berhasil dengan baik, dibutuhkan sikap serta kemauan yang keras, kegigihan yang kuat, pelatihan yang terus menerus, dan kesabaran yang tinggi. hal tersebut sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa saat berguru kepada Khidir sebagaimana diriwayatkan 'Ubaidillah bin 'Utbah bin Mas'ud, dari Ibnu 'Abbas.
Pada saat Ibnu ‘Abbas berdiskusi dengan Alhir bin Qais bin Hisn al-Farazi tentang Nabi Musa dan Khidir, melintas di hadapan mereka ‘Ubai bin Ka’ab. Ibnu ‘Abbas lalu memanggilnya seraya berkata, “Aku dan saudaraku ini sedang mendiskusikan sahabat Nabi Musa ‘alayhis-salam, Khidir”.  Nabi Musa sampai meminta petunjuk dengannya. Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wa Sallam pernah menjelaskan tentang hal itu?” 
“Ya,” kata ‘Ubay bin Ka’ab. “Aku pernah mendengar Rasullullah Shallallâhu ‘alahi wa Sallam pernah menjelaskan tentang hal itu.” Lebih lanjut ‘Ubay bin Ka’ab menuturkan bahwa Beliau pernah bersabda: 
Ketika Nabi Musa berada di tengah-tengah Bani Israel, datanglah seseorang bertanya kepadanya, “Apakah anda tahu rang yang berilmu daripada Anda?” “Tidak,” jawab Nabi Musa. Maka, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Ada wahai Musa. Ia adalah Khidir.” Musa lalu memohon kepada Allah agar mendapat petunjuk menemui Khidir. Lalu, Allah jadikan ikan sebagai tandanya. Dikatakan kepadanya, “Jika kamu kehilangan ikan ini, kembalilah dan kamu akan menjumpainya.”
Nabi Musa mengikuti jejak ikan itu di laut. Murid Nabi Musa berkata kepadanya, “Tahukah Anda tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu. Tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya, kecuali setan.” “Inilah tempat yang kita cari!” kata Nabi Musa. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula(Q.s. al-Kahfi[18]: 63-64). Selanjutnya mereka pun menemui Khidir. 
Ketika Nabi Musa berkenan menyampaikan keinginannya untuk berguru kepada Khidir, syarat yang harus dipenuhinya untuk berguru kepada Khidir adalah mampu memiliki sifat sabar. Dan, kisah mereka seperti yang Allah ceritakan dalam kitab-Nya.*)
 
Dari kisah Nabi Musa berguru kepada Khidir di atas ada pelajaran yang bisa kita petik. Pelajaran itu berupa empat prinsip belajar, yaitu: 1. Prinsip kemauan yang kuat, 2.  Prinsip kegigihan dalam belajar, 3. Prinsip pengasahan diri yang terus menerus, dan 4. Prinsip kesabaran yang tinggi.  Keempat prinsip tersebutlah yang dimiliki Nabi Musa saat berguru kepada Khidir. (priyadi1957)
*) Diriwayatkan 0leh Bhukhâri dan Muslim.
Referensi:
*Sarlito Wirawan Sarwono. 1976. "Pengantar Umum Psikologi". Jakarta: Bulan Bintang.
*Dwi Budiyanto. 2009. “Prophetic Learning”. Yogyakarta: pro-U Media.
Posted:
Slamet Priyadi Pangarakan, Bogor

GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Bagaimana Kita Belajar? Oleh Slamet Priyadi: Belajar perlu keseriusan Slamet Priyadi – Minggu, 21 Juli 2013 – 07:01 WIB – Belajar berarti merubah atau memperbaiki tingkah laku...

Jumat, 05 Juli 2013

Slamet Priyadi: "Dongeng Burung Emprit dan Burung Tinggalanak (Bag. 2 Habis) Dikisahkan Oleh Sita


Blog Sita - Senin, 01 Juli 2013 - 05:13 WIB

Kak Sita
Assalamu'alaikum... Adik-adik, salam jumpa dan salam sejahtera selalu! Kak Sita kembali akan melanjutkan dongeng tentang burung emprit dan burung tinggal anak yang belum selesai kepada adik-adik semua. Jangan bosan, ya sebab ceritanya memang agak panjang. Pak Slamet yang menulis cerita ini memang sedang ada kesibukan dan tugas-tugas yang tak bisa ditinggalkan. Jadi, kak Sita mendongengnya terputus-putus bersambung terus, salam penuh kasih dari kak Sita buat adik-adik semua. Inilah cerita berikutnya!
  
Di atas dahan dengan daun-daun yang didapat di sekitar pohon yang mereka singgahi, mereka buat sarang untuk tempat tinggal mereka yang baru. Burung Mesir lalu membelai kedua anaknya dengan penuh rasa kasih sayang. Dalam hatinya berkata, “Oh, anakku hampir saja jiwamu melayang menyusul ayahmu. Untunglah ada pamanmu di sini yang bisa membantu dan menolong kita. Mudah-mudahan saja dia akan betah tinggal di sini menemani kita selamanya”. 

Ketika burung Mesir masih dalam lamunannya, burung emprit menyapanya perlahan, “Wahai Tinggalanak, apa yang sedang kau pikirkan? Aku melihatmu seperti dalam kebingungan. Apa ada yang mengganjal pikiranmu terkait dengan keberadaanku di sini?”

Sedikit terperanjat burung Mesir menjawab pertanyaan burung emprit, “Oh, tidak...tidak... aku hanya berpikir bagaimana jika tidak ada engkau di sini, mungkin kami bertiga sudah mati menjadi santapan ular hijau kecokelatan yang buas dan sangat berbisa itu. Dan karena nya aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala pertolonganmu kepada kami”.

“Akh, saya pikir itu memang sudah seharusnya kita saling tolong menolong, bantu membantu dalam segala hal. Malah justru aku yang seharusnya banyak berterimakasih kepadamu, Tinggalanak. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika aku tak berjumpa denganmu di negeri Mesir yang sama sekali masih asing bagiku ini”. Sudahlah, Tinggalanak! Kita tak perlu larut dalam pembicaraan yang tidak penting itu. Pokoknya kita sama-sama tahu sajalah. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita mencari jalan keluar agar kita bisa terhindar dari ancaman dan mara bahaya yang disetiap saat bisa mengancam keselamatan kita dan anak-anakmu”. Demikian burung emprit berkata kepada burung Mesir. Nampaknya mereka dari waktu ke waktu sudah semakin akrab saja.

Pada satu kesempatan, burung emprit mengungkapkan hasratnya untuk mempersunting burung Mesir dan mengajak burung Mesir untuk ikut serta bersamanya kembali ke negeri Jawa Dwipa di kepulauan Nusantara, “Tinggalanak, aku ingin berterus terang kepadamu bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaimu, dan berkeinginan sekali untuk mempersuntingmu menjadi istriku. Apakah engkau mau menerima lamaranku ini?” Demikian pernyataan isi hati burung emprit diungkapkan dengan secara terus terang dan terbuka kepada Tinggalanak, burung Mesir yang sudah memiliki dua orang anak yang masih kecil-kecil itu.

Mendengar pernyataan dan pertanyaan yang begitu  cepat dan terus terang tanpa tedeng aling-aling serta tidak diduga-duga dari burung emprit Jawa, burung Mesir menjadi terperangah, betul-betul pernyataan itu membuat kaget dirinya. Meski pun di dalam hatinya  sesungguhnya ia sangat gembira dan bahagia sekali mendengarnya.  Burung Mesir masih terdiam membisu dan menundukkan kepalanya belum menjawab pertanyaan burung emprit. Sampai akhirnya pertanyaan kedua diajukan lagi oleh burung emprit Jawa,

“Bagaimana dengan pertanyaanku tadi Tinggalanak? Apakah kau mau menjadi istriku? Jika kau setuju, maka aku akan mengajakmu pergi ke kampung halamanku Negeri Jawa Dwipa di Nusantara. Negeri yang teramat elok nan permai dengan hutan dan rimba belantara  yang membentang luas, tanah persawahan dengan padi-padinya yang menguning, air sungai yang mengalir jernih, riak ombak di lautan  yang membiru, putih berkilauan bagaikan ratna mutu manikan, gemah-ripah dan loh jinawi semua itu akan kau lihat dan saksikan sendiri, Tinggalanak!” 

“Sebenarnya aku mau menjadi istrimu dan ikut ke negerimu, di Jawadwipa. Akan tetapi bagaimana dengan kedua anakku yang masih kecil-kecil dan belum bisa terbang jauh sebagaimana kita, Emprit? Bagaimana jika kita menundanya selama sembilan bulan sampai anak-anakku bisa terbang dengan kuat?” Jawab burung tinggal anak sambil memberi alternatif pilihan dan saran pada burung emprit.

“Baiklah Tinggalanak, aku setuju dengan saranmu! Aku akan datang lagi kemari setelah  enam bulan kemudian, dan sementara ini aku akan pergi dulu untuk mencari makanan secukupnya untuk bekal di perjalanan.” Burung emprit kemudian terbang meninggalkan burung tinggalanak dan kedua anaknya.

Singkat cerita, sembilan bulan pun telah berlalu. Kedua anak burung Tinggalanak, kini sudah remaja, tampan dan gagah pula. Bulu-bulu dan sayapnya nampak kuat. Mereka terbang dari dahan satu ke dahan yang lain, dari pohon tempat tinggal mereka ke pohon yang lain dengan sigap dan cekatan sekali. Sepertinya mereka memang sudah siap untuk terbang jauh menyeberangi samudra melintas benua. Sementara induk mereka memperhatikan dari jauh  akan sepak terjang kedua anaknya itu dengan penuh perasaan bahagia dan suka cita. Saat kedua anaknya kembali dan menghampiri dirinya, ia pun menanyakan pada kedua anaknya itu. 
“Anak-anakku kalian kini sudah menjadi besar. Ibu lihat terbang kalian pun sudah demikian tangkas, kuat dan cekatan. Hari ini mungkin paman kalian akan datang mengajak kita pergi merantau ke negeri jauh nun di seberang lautan, negeri Jawadwipa. Apakah kalian siap untuk ikut bersama ibu?” 
“Wow! Tentu saja ibu, ananda sangat siap dan kami berdua bahkan sangat gembira sekali untuk pergi terbang jauh mengunjungi negeri yang menurut teman-teman ananda yang sudah pernah berkunjung ke sana, Jawadwipa adalah salah satu negeri terindah di dunia dengan pemandangan alamnya yang sangat mempesona dan bangsa manusianya serta burung-burungnya yang seperti kita ini sangatlah ramah, penuh rasa persahabatan terhadap sesamanya. Kapan kita berangkat ibu? Terus terang ananda sudah tak sabar menunggu hari keberangkatan itu!” Demikian jawaban kedua anaknya dengan penuh suka cita.   
Menjelang senja saat Matahari mulai terbenam, burung Emprit tiba dan hinggap di salah satu ranting pohon tempat tinggal mereka yang langsung disapa dengan suka cita oleh burung Tinggal anak dan kedua anak-anaknya.  
“Wahai paman Emprit, kami sudah lama sekali dan tak sabar menanti kehadiran paman di sini. Selamat datang paman!" Kedua anak burung Tinggalanak menyapa kehadiran burung Emprit secara serempak.
“Assalamu’alaikum dan salam sejahtera untuk kalian semua. Sungguh paman juga gembira dan bahagia sekali melihat kalian berdua sudah besar-besar, tampan dan gagah-gagah! Bagaimana kabar kalian? Tentunya kalian pasti sudah sangat siap untuk terbang jauh berkunjung ke negeri paman, negeri Jawadwipa di kepulauan Nusantara, bukan?!”
Mendengar itu anak tertua menjawab, “Kabar kami sangat sehat, paman! Bahkan terlalu sangat siap untuk terbang jauh bersama  ibunda dan paman.” "Iya paman, kami siap!" Jawab putera kedua.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, mereka semua, burung Tinggalanak dan kedua puteranya serta burung Emprit pun berangkat, terbang melesat dengan cepat meninggalkan tempat tinggal mereka. Meninggalkan negeri mereka tercinta, Mesir untuk menuju ke negeri seberang, negeri Jawadwipa di kepulauan Nusantara. 
Tak diceritakan secara panjang lebar di tentang perjalanan mereka menuju negeri Jawadwipa. Singkat cerita, mereka telah sampai di ujung utara pulau Sumatra. Tepatnya di selat perbatasan antara negeri Malaysia dan Indonesia. Secara tiba-tiba terjadi perubahan cuaca yang sangat mendadak, tiba-tiba terjadi badai besar, air laut menggulung-gulung setinggi gunung, bumi berguncang, angin kencang puting beliung  menhanyutkan apa saja yang ada di pesisir pantai utara  pulau Sumatra. Kedua putera Burung tinggalanak yang memang sudah kelelahan terpisah dari ibunya tak ketahuan lagi rimbanya. Hanya tinggal mereka berdua yang masih bersama-sama, terbang terhempas kian kemari bertaha hidup dari badai besar yang mengancam jiwanya. Ditengah-tengah badai besar dan angin kencang yang menghempaskan keduanya, burung Tinggalanak masih sempat bertanya kepada burung Emprit yang sedang berupaya mengatasi derasnya hujan dan badai di lautan serta hembusan angin kencang yang membuat tubuh mereka terombang-ambing di atas samudera yang cukup luas itu. 
“Kanda Emprit bagaimana dengan kedua anak-anakku? Aku tak mau terpisah dari mereka, aku sangat mencintai dan mengasihinya. Tolonglah kanda Emprit, jangan tinggalkan mereka!” Demikian ratap dan tangis burung Tinggalanak mengharap kepada burung Emprit agar mencari kedua anaknya terlebih dahulu.
“Dinda Tinggalanak, sebaiknya kita tak usah memperhatikan mereka dulu. Mereka berdua sudah besar-besar, tenaganya lebih kuat dari kita. Aku yakin mereka berdua selamat dan kelak mereka akan mencari kita, percayalah padaku dinda Tinggalanak!” Demikian jawaban yang diucapkan burung Emprit kepada istrinya, burung Tinggalanak. Suatu jawaban yang sungguh di luar perkiraan dan sangat tidak diharapkan burung Tinggalanak, dan itu sudah membuat hatinya kecewa dan terluka hati burung Tinggalanak. Pikirnya, ternyata suaminya teramat egois hanya mementingkan keselamatan diri sendiri, dan tidak memiliki perasaan empati serta tidak mau memahami perasannya yang begitu sangat mengasihi dan menyayangi kedua puetranya yang baru berangkat dewasa.
“Baiklah kanda Emprit! Jika itu kemauanmu, aku tak mengapa. Akan tetapi aku akan tetap mencari kedua anak-anakku terlebih dahulu. Tinggalkanlah aku sendiri, dan pergilah! Kelak aku akan selalu mencarimu, memanggil namamu. Di setiap kampung yang aku singgahi aku akan mencicit, menjerit-jerit dengan bunyi suara yang menyayatkan hati seperti orang yang ditinggal mati. Dan ‘roh’ aku pun akan masuk ke dalam dirimu sehingga engkaupun akan berbunyi dan bersuara seperti aku karena aku ada dalam dirimu."  Bersamaan dengan ucapan kata terakhir burung Tinggalanak,  kilatan petir menyambar tubuh burung tinggal anak yang seketika itu juga mati, hangus terbakar.
Beberapa hari kemudian setelah badai reda, dan cuaca kembali normal seperti sedia kala, di setiap daerah mulai dari ujung Sumatra utara terus hingga pulau Jawa, nampak burung Tinggalanak yang sudah menjelma menjadi burung Emprit bertengger di atas pucuk-pucuk pohon di setiap daerah kampung yang dilalui dan disinggahinya. Burung emprit atau burung Tinggalanak itu mencicit menciap menyayat hati dengan suaranya yang seakan-akan memanggil-manggil sebuah nama agar mengantar dia kembali ke negeri Mesir, “Priiit...priiit...priiit...priiit...balekno Mesirrr...!"(dalam bahasa Jawa artinya: “Prit,prit, prit... prit, balikkanlah saya ke Mesir.”)
Dan yang  anehnya setiap kali daerah atau kampung yang disinggahi burung Tinggalanak atau burung Emprit ini, ada saja salah satu warganya yang meninggal dunia, sehingga burung ini sampai sekarang masih dipercaya sebagai burung pembawa berita kematian. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai "burung Syetan". 
Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor

Slamet Priyadi (Foto: SP)
Burung Tinggalanak atau burung Emprit selalu bertengger di atas pucuk-pucuk pohon. Setiap daerah atau kampung yang dilalui dan disinggahinya, burung Emprit atau burung Tinggalanak itu mencicit menciap. Bunyinya menyayatkan hati seperti memanggil-manggil sebuah nama agar mengantar dia kembali ke negeri Mesir, “Priiit...priiit...priiit...priiit...balekno Mesirrr...(dalam bahasa Jawa artinya: “Prit,prit, prit... prit, balikkanlah saya ke Mesir.”) Anehnya setiap kali daerah atau kampung yang disinggahi burung Tinggalanak atau burung Emprit tersebut, ada saja salah satu warganya yang meninggal dunia, sehingga burung ini sampai sekarang masih dipercaya sebagai burung pembawa berita kematian. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai "burung Syetan".
Sita Blog: "NINA BOBO": Slamet Priyadi: "Dongeng Burung Emprit dan Burung ...: Blog Sita - Senin, 01 Juli 2013 - 05:13 WIB Kak Sita Assalamu'alaikum... Adik-adik, salam jumpa dan salam sejahtera selalu! Ka...

Mulailah Dari Diri Kita Sendiri Oleh Slamet Priyadi


Slmet Priyadi Blog│Jumat, 05 Juli 2013│20:43 WIB
Slamet Priyadi
Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu pengajian majelis taklim kaun ibu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah. Dan kebetulan, majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan dakwah sang ustadz, salah satu di antaranya adalah istrinya sendiri.
Ceramah yang disampaikan sang ustadz tentang pentingnya infak, begitu mempesona, ekspresif, simpatik, dan menarik dengan  suaranya yang begitu khas, terkadang lembut, terkadang keras dan tegas. Sehingga beberapa jamaah sampai-sampai ada yang meneteskan air mata, menangis karena dakwah sang ustadz merasuk ke dalam lubuk hati mereka, termasuk istrinya sendiri. Istri sang ustadz menangis karena sangat tersentuh dengan apa yang disampaikan dalam ceramah suaminya itu.  
Setelah pengajian selesai, istri sang ustadz bergegas pulang ke rumahnya.  Sebelumnya, ia segera melepas perhiasan gelang dan kalung yang ada di tangan dan lehernya, lalu menyerahkannya kepada ketua kelompok pengajian. Ia juga mengambil sebagian harta dan emas yang disimpan di rumahnya lalu diinfakkannya dengan tujuan semata-mata karena Allah. 
 
Beberapa jam kemudian, setelah selesai menyampaikan dakwah di masjid, suaminya pun tiba di rumah. Sang ustadz segera menyapa istrinya dengan penuh perasaan cinta sambil membelai rambut istrinya sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya setiap pulang dari berdakwah. Akan tetapi ia sedikit terkejut dan heran, karena dilihatnya sang istri terkasih tidak mengenakan gelang dan kalung perhiasan. Ia pun bertanya kepada istrinya:
“Istriku, kemana gelang dan kalung perhiasan yang kau pakai di pengajian tadi? Kau tambah cantik dengan memakai perhiasan itu, istriku.” Tanya sang ustadz kepada istrinya sambil kembali membelai-belai rambutnya. Istrinya pun menjawab pertanyaan suaminya dengan penuh manja:
“Suamiku...! hampir semua majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan ceramah di pengajian, tersentuh hatinya oleh materi ceramahmu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah, termasuk istrimu ini. Bahkan aku pun ikut menagis pula tak bisa menahan haru. Setelah selesai, ibu ketua majelis taklim menyerukan kepada semua ibu-ibu anggota kelompok pengajian agar menginfakkan sebagian hartanya.  Maka dengan ikhlas penuh kesadaran sebagai umat Islam, aku pun menyerahkan pula gelang dan kalung perhiasan itu, bahkan sebagian harta yang masih ada akan aku serahkan pula untuk dikumpulkan oleh ketua pengajian yang selanjutnya akan diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.”
Mendengar jawaban dan penuturan istrinya, sang ustadz bukannya berbangga dengan apa yang telah dilakukan istrinya, tetapi malah kecewa dan sedikit marah:
“Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini? Istriku! Semua kata-kata yang aku ucapkan dalam ceramahku tadi, itu bukan untukmu! Akan tetapi... untuk mereka hadirin kelompok pengajian yang lain, bukan engkau tahu!”
Nah, sobat! Jika kita cermati ilusterasi cerita di atas, tentu sangat paradok, bukan? Seorang penceramah yang mengajarkan ajaran syariat agama yang seharusnya harus dicontoh dan diteladani ucapan-ucapannya justru berbuat sebailiknya, tidak adanya satu kata dan perbuatan.  Bukankah Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Tidakkah kamu berfikir?” (QS. Al-Baqarah:44)
 
Dengan demikian, sebelum menggebu-gebu menyuruh atau menasehati orang lain untuk berbuat baik atau berperilaku baik, sebaiknya terlebih dahulu melakukan perbuatan baik oleh diri sendiri. Sangat keliru dan salah besar jika menuntut atau menyuruh orang lain memiliki sifat-sifat baik sementara dia sendiri belum memiliki sifat-sifat tersebut. Orang bijak berkata, “Orang yang melihat dan mendidik dirinya sendiri adalah lebih berhak mendapat kehormatan daripada orang yang mendidik dan mengajari orang lain.”
Imam ‘Ali berkata, “Barang siapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku sebelum dengan lisan.” (Khalil al-Musawi, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, hal. 25)
Demikianlah! Semoga ada manfaatnya, terutama untuk diri saya sendiri! 
Referensi:
Khalil Al-Musawi,2002, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Jakarta: Lentera.
Penulis:
Slamet Priyadi, Pangarakan - Bogor

1 komentar:

  1. Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Tidakkah kamu berfikir?” (QS. Al-Baqarah:44)
    BalasHapus

GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Mulailah Dari Diri Kita Sendiri Oleh Slamet Priyad...: Slmet Priyadi Blog│Jumat, 05 Juli 2013│20:43 WIB Slamet Priyadi Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah be...

Rabu, 26 Juni 2013

Slamet Priyadi: "Tradisi Saweran Dalam Upacara Perkawinan Masyarakat Sunda "

Slamet Priyadi Blog│Sabtu, 22 Juni 2013│08:27 WIB

Pelaksanaan IJAB QOBUL oleh pak Penghulu
Pada hari Jumat, 15 Juni 2013 pukul 09:20, saya menyaksikan prosesi pernikahkan putra kedua saya, Jagad Perwira dengan Bunga Restu putri kedua dari bapak Encep Hudri dan ibu Euis (besan) di rumahnya yang beralamat di kampung Tejo Ayu, Cicurug, Sukabumi.
Ada acara yang cukup unik dan menarik dari keseluruhan prosesi upacara perkawinan tersebut, yaitu acara setelah prosesi pernikahan atau Ijab Kabul Sang Pengantin selesai dilaksanakan berupa "Tradisi Saweran” yang banyak memberi pesan moral, social, dan bersifat religius. Dalam pelaksanaannya ternyata Tradisi Saweran ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah upacara perkawinan masyarakat sunda yang sudah turun-temurun dilakukan, berisikan petuah-petuah yang disampaikan kepada sang pengantin agar mereka di kemudian hari mampu mengarungi bahtera rumahtangga secara damai, sejahtera, harmonis dan bahagia.
 
Juru Sawer memandu upacara sawer sambil menyanyikan tembang yang berisi pituah-pituah bagaimana menjalani kehidupan berumah tangga yang syakinah, mawaddah, warohmah
Pada acara Saweran ini, kedua mempelai duduk secara berdampingan, yang didampingi oleh orangtua masing-masing mempelai. Sebuah payung berwarna emas memayungi keduanya. Lantunan tembang-tembang sunda disampaikan oleh juru sawer yang mengandung pituah-pituah, bagaimana seharusnya menjalani kehidupan sebuah mahligai rumah tangga bahagia. Dalam sesi ini, juru sawer di tengah-tengah lantunan tembang yang dinyanyikan, menebarkan berbagai jenis benda  dalam “bokor” yang berisi koin uang recehan, beras, bunga, permen, dan lain-lain kepada hadirin dan para undangan. Menurut juru sawer, hal ini merupakan symbol atau lambang, dimana uang sebagai lambang kemakmuran, beras sebagai lambang kesejahteraan, dan permen sebagai lambang bahwa, sepahit apapun proses kehidupan yang dijalani dalam hidup berumah tangga, harus selalu diselesaikan dengan cara yang manis semanis rasa permen.

Acara saweran dengan menebarkan permen dan uang recehan oleh juru sawer merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu dan sangat disukai anak-anak yang menyaksikan jalannya acara saweran ini. Mereka saling berlarian, melompat sana-sini saling berebut koin uang recehan dengan penuh suka cita penuh canda ria. 
Orang tua wajib mendampingi kedua mempelai saat acara pemberian doa restu dari sanak keluarga, handai taulan, hadirin, dan para undangan
Menurut Juru Sawer selaku pemandu jalannya upacara ini, "Tradisi Saweran yang dilakukan pada setiap upacara perkawinan atau upacara khitanan dalam keluarga masyarakat Sunda merupakan lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah rizki yang telah diberikan dan dimilikinya. Lain daripada itu , upacara ritual ini juga bertujuan agar kedua mempelai pasangan pengantin dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya bahwa di dalam hidup ini, agar selalu saling berbagi, saling membantu, saling bekerja sama, saling tolong menolong terhadap sesama".
Syah menjadi pasangan suami istri dan siap pula menghadapi romantika kehidupan berumah tangga
Referensi:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Barat. Jakarta: Depdikbud
Penulis:
Slamet Priyadi Pangarakan, Bogor

GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Tradisi Saweran Dalam Upacara Perkawinan Masyaraka...: Slamet Priyadi Blog│Sabtu, 22 Juni 2013│08:27 WIB Pelaksanaan IJAB QOBUL oleh pak Penghulu Pada hari Jumat, 15 Juni 2013 pukul 09:...

Karya Siswa: "Komposisi Lagu Ane Bangge SMAN 42 Ciptaan Slamet P





Aisya Mulyani
Dhea Pradekta Sari X-6
Efira Kls X-6
 

Senin, 24 Juni 2013

Upaya Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa SMAN 42 Oleh Slamet Priyadi

 Slamet Priyadi Blog│Senin, 25 Juni 2013│12:20 WIB 

Slamet Priyadi SMA Negeri 42
Dalam berbagai kesempatan saat saya dan teman-teman santai minum kopi di kantin samping Rumah sakit Halim, saya acapkali berbincang-bincang tentang berbagai hal. Sekali waktu kami bahas juga tentang prestasi akademik siswa SMA Negeri 42 yang masih  tertinggal dengan sekolah lain seperti SMAN 48, SMAN 81 dan yang lain. Dalam kesempatan diskusi tersebut saya lontarkan pertanyaan sebagai berikut, “Apakah sekolah memiliki pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa?”, “Mengapa sampai sekarang prestasi akademik siswa SMA Negeri 42 masih  tertinggal dengan sekolah lain yang notabene lebih muda usianya dibanding SMA Negeri 42?”. Rupanya beberapa pertanyaan tersebut cukup menggelitik dan membuat berkerut kening teman-teman oleh karena jawabannya memang membutuhkan suatu  analisa secara pedagogis serta pemikiran   yang  referensional (berdasar keilmuan).

Jawaban klise terucap dari teman-teman, “Ya tentu, dong! Soalnya perekrutan siswa kelas X pada awalnya memang sudah bukan siswa-siswa yang pilihan, dalam arti siswa-siswa yang masuk mendaftar ke SMAN 42 bukan pilihan pertama akan tetapi pilihan  ke dua yang secara intelektual relative rendah”.  Dengan Input dan kualitas siswa yang demikian tentu saja wajar apabila outputnya pun juga rendah. 

Jika dipikir,  jawaban tersebut memang ada benarnya juga. Akan tetapi jika demikian adanya, hal tersebut tentu justru menggambarkan kegagalan kita sebagai guru dan sekolah, komponen sekolah beserta fasilitas dan sarana sekolah sebagai institusi pendidikan yang selama ini tempat kita mengabdi, dan bekerja selaku tenaga pendidik. Jelasnya jawaban tersebut seakan-akan menunjukkan kepada kita bahwa SMA Negeri 42 selaku institusi pendidikan tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap performa akademik siswa. 

Apabila kita umpamakan dengan sebuah industri yang memproduksi barang tertentu, jika kualitas bahan bakunya rendah tentu hasil produksinya juga rendah. Dengan demikian di sini jalannya proses produksi menjadi tidak berarti dan mubazir. Padahal prinsip ekonomi mengatakan, “Mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan capital yang sekecil-kecilnya”. Mengacu pada prinsip ekonomi tersebut, seharusnya langkah yang dilakukan adalah bagaimana caranya memaksimalkan suatu produksi dengan modal yang kecil dan bahan baku yang murah, dapat menghasilkan produksi yang baik dan berkualitas sehingga bisa dijual dengan harga yang tinggi atau mahal. 

Pandangan yang menyatakan penyebab rendahnya kualitas siswa (prestasi akademik siswa) karena “input” yang rendah, saya pikir tidak tepat karena itu berarti proses pembelajaran (schooling) yang dilakukan oleh SMAN 42 sama sekali tidak berarti karena tidak memberikan nilai tambah pada diri siswa. Kalaupun ada siswa yang berprestasi menggembirakan, semata-mata itu karena kemampuan dirinya yang memang sudah ada sebelumnya hasil dari didikan dan binaan orang tua atau pada sekolah sebelumnya. 

Pandangan tersebut di atas seyogyannya tidak dijadikan pegangan untuk langkah ke depan. Untuk itu mulai dari sekarang kita para guru dan seluruh komponen sekolah harus bersatu padu bertekad satu  untuk memajukan dan meningkatkan prestasi akademik siswa SMAN 42 dengan bekerja keras, aktif inovatif, kreatif, efektif dan selalu tampil dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa di kelas dapat menerima pelajaran tanpa harus takut dan tegang. 

Berkait dengan hal tersebut beberapa hasil penelitian tentang sekolah yang efektif (effectiveness school) membuktikan bahwa tingkat kecerdasan atau prestasi belajar siswa  sangat ditentukan oleh lingkungan belajar (learning environment) siswa di sekolah. Oleh karena itu yang terpenting adalah bagaimana kita menciptakan suasana yang kondusif yaitu suasana  pembelajaran yang  aktif, apresiatif, kreatif, efektif dan menyenangkan agar setiap siswa mampu mengembangkan dirinya secara optimal. Semakin kondusif dan efektif lingkungan belajar sekolah maka semakin besar pula kesempatan siswa untuk meningkat prestasinya.
Dengan demikian, utamanya kita tidak lagi berdalih mempermasalahkan kualitas input yang diterima sekolah, akan tetapi bagaimana kita memfokuskan pada strategi, model, dan pendekatan serta metode-metode apa yang efektif untuk meningkatkan kemampuan dan pretasi akademik siswa. Kualitas input yang rendah lebih baik kita jadikan sebagai pemicu semangat dalam rangka untuk membuktikan kepada masyarakat, bangsa dan Negara bahwa lembaga pendidikan khususnya SMA Negeri 42 mampu memberikan nilai tambah (value added) bagi siswa semua. JAYALAH, JAYALAH  SMA Negeri 42!
 
Referensi:
Pembelajaran yang efektif-Jamaludin, M.Ed) 

Penulis:
Slamet Priyadi di Pangarakan, Bogor
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Upaya Meningkatkan Prestasi Akademik Siswa SMAN 42...: Slamet Priyadi Blog│Senin, 24 Juni 2013│21:05 WIB  Slamet Priyadi SMA Negeri 42 Dalam berbagai kesempatan saat saya dan teman-...

Rabu, 12 Juni 2013

Cerita Rakyat Sumatra Barat: " Asal Nama Minangkabau"


Denmas Priyadi Blog │ Rabu, 12 Juni 2013 │ 18:48 WIB

Minangkabau

Dikisahkan, suatu ketika terjadilah pembicaraan antara Raja Besar dan Raja Kecil di salah satu kerajaan di daerah Sumatra Barat. Raja kecil mempunyai seorang penasihat yang terkenal dengan kebijaksanaannya dan kecerdikannya bernama Catri Bilang Pandai.  Berkatalah ia kepada Raja Penakluk:
 
“Paduka, jika Paduka hendak berperang, kami tidak melawan. Jika Paduka hendak berkuasa, kami juga tidak mau tunduk. Menurut tradisi rakyat kami, Raja yang ingin berkuasa dengan perang bukanlah raja yang adil.”
“Kami tidak mengerti dengan apa yang kamu maksudkan?” Berkata sang Raja Penakluk sambil  mengerutkan dahinya.

“Begini Paduka, mengapa bukan hewan milik kita saja yang diadu untuk berkelahi? Jika hewan Paduka yang menang, kami mengaku kalah. Akan tetapi, jika hewan kami yang menang Paduka harus mengaku kalah.”
“Baiklah aku setuju. Tapi hewan apa yang akan di adu?” Tanya Raja Penakluk.
“Di kerajaan Paduka tentu banyak kerbau, di kerajaan kami juga banyak. Mengapa tidak kerbau saja yang kita adu untuk berkelahi?” Catri Bilang Pandai mengajukan usul.

Pada hari yang telah disepakati, kedua belah pihak berbaur. Mereka makan dan minum bersama-sama sepuas hati. Dibukalah gelanggang aduan. Diiringi bunyi-bunyian musik yang terus berkumandang dengan berbagai macam hiburan yang disajikan. Tibalah saatnya perkelahian kerbau dimulai. Raja Penakluk melepaskan kerbaunya yang sangat besar, kuat, dan menyeramkan membuat seluruh penduduk negeri gempar. Kepalanya merunduk, ekornya mengibas-ngibas, siap menghadapi lawannya. Akan tetapi karena lama lawannya tak kunjung dating, kerbau itu merumput dengan tenangnya.

Pada saat itulah kerbau anak negeri dilepas ketengah gelanggang. Yang menjadi pertanyaan adalah kerbau itu hanya seekor anak kerbau kecil yang sedang menyusui dan kelaparan setelah seminggu tidak menyusu. Di ujung hidungnya diikatkan taji yang sudah diasah tajam sekali.

Melihat kerbau besar di tengah gelanggang, anak kerbau itu kemudian menyeruduk keperut kerbau untuk menyusu karena disangka induknya. Kerbau besar yang sebelumnya sangat menyeramkan itu lari tunggang langgang karena kesakitan, perutnya tertusuk taji yang sangat tajam.
Kerbau itu kemudian lari dari satu kampong ke kampong yang lain. Di suatu kampong, isi perutnya terburai menyebar keluar.  Menurut bahasa penduduk, isi perut kerbau itu tersimpurut.  

Sejak kejadian tersebut nama kampong itu adalah Simpurut. Setiba di kampong yang lain, kerbau itu mati, jangatnya (kulit luar) dikuliti untuk dijadikan bedug. Oleh karena itu, kampong tempat orang menguliti kerbau itu diberi nama Sijangat. Kampong tempat mengadu kedua kerbau itu diberi nama MINANGKABAU.

Sampai sekarang, ketiga kampong yang bersejarah itu masih ada dengan nama yang sama. Selanjutnya, Raja Penakluk tidak kembali lagi ke negerinya. Dia tidak dipandang sebagai raja yang kalah melainkan dihormati dan diambil untuk jadi menantu raja.  Menurut cerita sejarah, dia bukan lain adalah Adityawarman yang mendirikan istana di Pagaruyung. 
Penulis: 
Slamet Priyadi - Kp. Pangarakan - Bogor

GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: Asal Nama Minangkabau: Denmas Priyadi Blog │ Rabu, 12 Juni 2013 │ 18:48 WIB Minangkabau Dikisahkan, suatu ketika terjadilah pem...